Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus, 2010

Mengapa BERTERIAK?

Suatu hari sang guru bertanya pada murid-muridnya; “Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?”

Seorang murid setelah berfikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab;

“Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu lalu ia berteriak.”

“Tapi…” sang guru balik bertanya, “lawan biacaranya justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?”

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan.

Sang guru lalu berkata; “Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka amat jauh walau secara fisik mereka bagitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak.

Namun anehnya, semakin keras meraka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.”

Sang guru malah melanjutkan; ‘Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling mencintai? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya begitu jelas. Mengapa demikian?”

Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban.

“Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah kata pun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan.”

Sang guru masih melanjutkan; “Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu anda.”

Janganlah mengeraskan suara di atas suara yang diperlukan pendengar, karena hal itu mengganggu dan menyakitkan. (Imam Syahid Hasan al-Banna)

Sumber : Milist Airputih

Read Full Post »

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

“Katakanlah kepada orang-orang beriman laki-laki (Mukminin) agar mereka menundukkan sebagian dari pandangan mata (terhadap wanita), dan memelihara akan kemaluan mereka (menutupnya). Yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah amat mengetahui akan apa yang mereka kerjakan. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memlihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa Nampak daripadanya.” (An-Nur: 30-31).

Imam Ibnul-Qayyim Al-Jauziyah telaj menulis beberapa faedah menundukkan pandangan dalam kitabnya yang berjudul Raudah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin. Tercantum pula dalam kitab Fiqh An-Nadhr karangan Al-Mundziri. Di bawah ini tersaji beberapa faedah menundukkan pandangan yang dinukil dari kitab-kitab di atas, di antaranya sebagai berikut:

  • Menundukkan pandangan berarti menunaikan titah Allah SWT. Tiada manusia yang bahagia di dunia dan akhirat kecuali dengan menunaikan perintah-perintah Allah.
  • Menundukkan pandangan akan menguatkan hati dan membahagiakannya. Sebagaimana halnya mengumbar pandangan akan melemahkan hati dan membuatnya gelisah.
  • Menundukkan pandangan membuat hati selalu bermesraan dengan Allah SWT. Sebaliknya mengumbar pandangan akan memporak-porandakan hati dan pikiran.
  • Menundukkan pandangan menimbulkan kelihaian yang benar-benar luar biasa. Siapa saja yang meramaikan zahirnya dengan mengikuti sunnah dan meramaikan batinnya dengan senantiasa muraqabah, menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan, menahan nafsunya dari syahwat, serta membiasakan hanya memakan harta yang halal, maka tidak ada yang menyalahkannya.
  • Menundukkan pandangan akan melahirkan hati yang gagah dan berani hingga membuat seseorang memiliki wawasan luas dan argumentasi yang kuat.
  • Menundukkan pandangan akan melepaskan hati dan tawanan syahwat. Sebagaimana sering dikatakan, “Orang yang tertawan oleh pandangan matanya, maka itulah sebenarnya tawanan.”
  • Menundukkan pandangan akan membentengi seseorang dari pintu syetan.
  • Menundukkan pandangan akan menguatkan akal dan menambah kecerdasan.
  • Menundukkan pandangan akan menyelamatkan hati dari mabuk syahwat dan mendengkur dalam kelengahan.
  • Menundukkan pandangan akan mengosongkan hati dari macam-macam kemaksiatan.
  • Menundukkan pandangan merupakan mahar (mas kawin) bagi bidadari.
  • Mengumbar pandangan akan member beban kepayahan bagi badan dan kedua mata.
  • Menundukkan pandangan akan membantu seseorang dalam menuntut ilmu.

Penyebab pengumbar pandangan:

  • Mengikuti hawa nafsu dan ajakan setan.
  • Mulai berkhayal.
  • Jahil (tidak tahu) terhadap negative pengumbar pandangan bahwa mengumbar pandangan penyebab zina.
  • Hanya ingat pada ampunan Allah SWT tetapi lupa pada ancaman siksanya.
  • Melihat atau menyaksikan media porno/ berbau pornografi baik di media cetak, elektronik, maupun internet.
  • Tidak menikah atau menunda pernikahan bagi mereka yang sudah siap menikah.
  • Sering berada di tempat bercampur baurnya laki-laki dan perempuan.
  • Merasakan kelezatan semu ketika memandang yang haram akibat lemahnya iman dan tidak hadirnya keagungan Allah SWT dalam hatinya. Orang yang merasakan keagungan-Nya pasti akan bersedih ketika berbuat maksiat.
  • Godaan dari lawan jenis berupa pakaian yang membuka aurat, ucapan, atau gerakan tubuh yang menarik perhatian.

Akibat negatif memandang yang haram:

  • Rusaknya hati
  • Terancam jatuh kepada zina
  • Lupa ilmu
  • Turunnya bala
  • Merusak sebagian amal
  • Melalaikan diri dari mengingat Allah SWT dan hari akhirat
  • Rendahnya mata yang memandang yang haram dari pandangan Islam

Manfaat menundukkan pandangan:

  • Membebaskan hati dari pedihnya penyesalan
  • Hati yang bercahaya dan terpancar pada tubuh
  • Terbukanya pintu ilmu dan factor untuk menguasainya
  • Mempertajam firasat dan prediksi
  • Menjadi salah satu penyebab datangnya Mahabatullah (cinta Allah SWT)

Faktor-faktor pendorong menundukkan pandangan:

  • Hadirnya pengawasan Allah SWT dan rasa takut akan siksanya
  • Menjauhkan diri dari penyebab pengumbar pandangan
  • Menuruti semua bahaya mengumbar pandangan
  • Meyakini manfaat menundukkan pandangan
  • Melaksanakan pesan Rasulullah SAW untuk segera memalingkan pandangan
  • Memperbanyak puasa
  • Menyalurkan keinginan melalui jalan yang halal (pernikahan)
  • Bergaulan dengan orang soleh dan menjauhkan diri dari persahabatan akrab yang rusak akhlaknya
  • Selalu merasa takut akan su’ul khotimah ketika meninggal dunia

Maraji’, Ensiklopedi Wanita Muslimah

Karya, Haya Binti Mubarok Al-Barik

Read Full Post »